Dapur Nyonya Al Jupri

Anda Percaya Kutukan?

Masih dalam nuansa tahun baru Hijriyah bicara kutukan? Kedengerannya serem ya? Tapi ini bukan kutukan biasa. Namanya kutukan bolu kukus. :D Tulisan ini adalah seri pertama dari Parade Jajanan Nusantara. Jadi ketika membahas kutukan ya, kutukan yang berhubungan dengan masak-memasak.:D

Tadinya saya ga pecaya adanya kutukan bolu kukus itu. Kalo resep udah dibuat oleh orang lain dan bisa dilakukan oleh orang lain, maka saya pun akan berhasil mempraktekannya. Walaupun ketika saya masukkan kata kunci “kutukan bolu kukus” di google akan muncul banyak sekali laman yang berkaitan dengan itu. Banyak sekali orang yang pernah terkena kutukan ini. Baik dalam waktu yang lama ataupun sementara. Tapi saya belum percaya sebelum akhirnya saya benar-benar terkutuk. :D

Sudah lama saya membaca tentang seluk-beluk misteri kutukan bolu kukus. Kenapa seseorang tertentu selalu gagal membuat bolu kukus tersenyum, dan seseorang yang lain begitu mudahnya membuat kue ini terbahak-bahak. Sampai akhirnya dengan PD dan niat mau sesumbar, bahwa tidak ada kutukan bolu kukus melekat di tangan saya. Saya baca dengan cermat step-stepnya di sini. Bahkan ketika mulai menimbang-nimbang bahan, mata saya lekat dengan monitor. Setiap stepnya saya cocokkan dengan saran. Disitu pake mikser merek miyako, saya juga. Semuanya saya ikuti. Hanya saja, saya agak tidak tega memperbudak satu-satunya mikser saya itu. Di sana ditulis mengocok tanpa henti dengan kecepatan paling tinggi selama 20 menit. Sedangkan jelas di petunjuk penggunaan mikser, mesin tidak boleh dijalankan selama lebih dari 10 menit. Tadinya mau masa bodoh, tapi panas sekali miksernya. Ya sudah, akhirnya dihentikan. Dengan terus komat-kamit, harap-harap cemas, akhirnya terus saja saya melanjutkan. Dan hasilnya tarararaaaaaa…… Bolu kukus gagal tertawa, tersenyum saja tidak.

Saya mulai percaya dengan kutukan itu. Dan tak henti-hentinya saya balas mengutuk bolu kukus. Makanan murah dengan cita rasa yang tak begitu istimewa. Kenapa begitu sukses mempermalukan kemampuan saya :D . Sombong banget ya!! :D Siapa suruh bolu kukusnya sombong. Patah hati. Lalu menghibur diri. Gpp kali, ga bisa bikin bolu kukus, toh suami saya ga doyan sama bolu kukus. Tapi tetep, penasaraaaaaaaaaaaan dan ingin menaklukkan kutukan bolu kukus itu. Lagian udah mahal-mahal beli cetakan bolu kukusnya. Masak ga bisa bikin, rugi dong.

Kembali berguru sama google. Kali ini ganti kata kunci dengan “bolu kukus anti gagal”. Ketemu banyak pilihan. Baca-baca-baca akhirnya memutuskan untuk mencoba yang ini. Alasannya simpel dan ulasannya meyakinkan bahwa resep ini anti gagal. Saya salin resepnya ya:

Bolu Kukus Gula Merah
sumber : Widya Wijanarti

Bahan-bahan :
1 sdt baking Powder
1 butir telur
250 gr gula merah (Pake 50 gr gula merah ditambah 70 gr gula pasir)
125 ml air (karena panik, diakhir ngadon tambahin 40 ml)
250 gr tepung terigu
50 gr margarine, cairkan

Cara membuat :
1. Cairkan gula merah dengan 125ml air, saring
2. Cairkan mentega, dinginkan
3. Kocok telur dengan baking powder, sampai tercampur rata, gak perlu sampe mengembang banget.
4. Masukkan terigu bergantian dengan air gula.
5. Kemudian masukkan pasta. (saya ga punya pasta)
6. Terakhir masukkan mentega, aduk rata.
7. Masukkan dalam wadah bolu kukus.
8. Kukus selama 20 menit dalam dandang/kukusan yang sudah beruap banyak (ini penting ya, musti panas banget). Angkat.

Dengan pasrah dan agak setengah hati, saya mulai mencairkan gula merah sesuai petunjuknya, kemudian mencairkan margarin.  Memanaskan kukusan. Menimbang terigu. Mengocok telur dengan baking powder. Ok, semudah ini bikinnya. Ga susah. Ga nyiksa mikser. Ga ada mikser juga jadi kok. Wong telur dikocok cuma sampai tercampur dengan baking powder aja, ga perlu sampe mengembang. Terus masukkan terigu sambil diayak sedikit-sedikit bergantian dengan cairan gula. Begitu air gula habis, mulai deh bingungnya. Kok adonannya liat amat ya? Mungkin karena belum dimasukin margarin. Lalu masukkan margarin. Sampai tercampur rata masih liat, kental. Aneh sekali ya. Saya membayangkan bagaimana caranya menuangkan ke paper cup kalo bentuknya gini. Lalu dengan ceroboh saya tambahkan 40 ml air. Dengan harapan adonan akan sedikit encer. Tapi kok masih kental. Mulai menarik napas panjang. Gusar. Bersiap kecewa, bolu kukusnya selain ga ketawa juga bakal ga berasa karena penambahan air. Ya sudah lah, akhirnya masukin ke paper cup aja dengan paksa. Jadi 7 cup. Di resep tulisannya 8-9 cup. Ok deh, selisih sedikit, mirip-mirip lah. Akhirnya komat-kamit. Berdoa semoga kutukannya udah pergi dari tangan saya. Masukkan ke kukusan yang sudah sangat panas.Lapisi tutupnya dengan serbet. Udah tinggalkan. Mandi selama 15 menit.

Dan taraaaaaaa……………..

Alhamdulillah, Akhirnya Kutukan itu Lenyap

Nyanyi-nyanyi deh. Senangnya hatiku turun panas demamku……. huehehehe :mrgreen: . Saking senangnya langsung deh, makan dengan lahap bolu kukusnya langsung dua, walaupun rasanya ya gitu-gitu aja :P . Tapi cukup enak, ga bau telor. Gula merahnya sedap. Suami saya mungkin doyan yang begini.

Anda percaya kutukan bolu kukus? Coba deh resep ini, semoga saja kutukan itu segera lenyap. Ga Percaya? Buktikan! :D

Udah lama ga nulis tentang aktivitas belajar memasak. Terus terang saja, sudah lama saya ingin berhenti dari belajar memasak. Tapi ternyata hobi ini sangat menyenangkan. Walaupun angka dalam timbangan badan bergeser ke kanan hari demi hari. Tapi hobi di dapur terlalu indah untuk ditinggalkan. Hobi lain? tidak semenarik ini. Sudah lama ga nulis, apakah berarti saya sudah bisa berhenti belajar masak? Jawabannya TIDAK. Walaupun memiliki aktivitas baru yang menyita waktu, ternyata, tetep aja susah berpaling dari dapur.

Berarti? Iya, walaupun tidak ditulis, selama ini saya masih terus belajar memasak. Tahu kenapa alasannya? Barangkali, beberapa tahun ke depan saya akan tinggal di Bandung. Membesarkan anak-anak di Bandung. Terbayang, betapa mahalnya aneka jajanan dan kue-kue yang sehat dan lezat di sana. Kalo jajanan pinggir jalan sih banyaknya bejibun. Tapi siapa yang bisa menjamin kehigienisan dan kandungan gizi di dalamnya? Kasihan suami dan anak saya nantinya, kalo ga bisa makan enak dan sehat. Maka, salah satu solusi adalah saya harus pintar memasak sendiri. Ini tekad saya.

Posting ini judulnya Parade Jajanan Nusantara. Karena beberapa hari ini saya belajar bikin kue-kue tradisional. Seperti Pukis, Rangin ato bandros alias kue pancong, bolu kukus, Bak pao (sebenernya ini makanan china ya), dll.

Selengkapnya akan saya ceritakan secara berseri menjadi sebuah parade :D . Semoga saja saya bisa menulisnya dengan menarik. :D

Cilok

Kalo di Bandung namanya cilok kependekan dari aci dicolok. Kalo di Jepara namanya salome, ga tahu ya kenapa disebut salome padahal bukan kependekan dari satu lobang rame-rame. Hehe.

Ingat waktu di Bandung dulu, waktu mengidam pengen banget makan cilok asli Bandung.  Pasti enak ya, udah tempatnya. Ternyata ga juga loh, di Bandung sendiri ada juga cilok gadungan. Rasanya bau aci banget, mana belum mateng tengahnya. Salah tempat belinya.

Kemarin ceritanya lagi bersih-bersih dapur. Nemu tepung tapioka yang usianya udah mau setahun. Sayang mau dibuang. Tapi bingung mau dibuat apa. Dulunya sih saya beli tepung itu dalam rangka ngidam, untuk campuran membuat pilus dari ubi mantang (ketela rambat). Akhirnya, bikin cilok aja.

Seperti biasa, mulai deh googling-googling resep dengan keyword “cilok bandung”. Wow, bahan-bahan di resepnya macem-macem ya. Pake daging, lemak ayam, ikan, dsb. Berhubung ga punya daging dan juga ayam, adanya udang yang sudah digoreng, ya udah dipake aja. Resepnya modifikasi sendiri.

Cilok Udang Ny. Al Jupri

Bahan-bahan dan cara membuat:

  1. Didihkan air dalam panci untuk merebus cilok.
  2. Campur 200 gr tepung tapioka, 200 gr tepung terigu, 1 bks Royco rasa ayam, 2 gr lada bubuk, 1 sdm garam.
  3. Haluskan dengan blender 5 ekor udang kupas dan 1 siung bawang putih dalam 300 ml air panas. Tuang sedikit-sedikit ke campuran tepung sambil diuleni sampai tidak lengket dan bisa dibulatkan.
  4. Bulatkan kecil-kecil. Masukkan ke dalam panci air yang sudah mendidih.
  5. Biarkan cilok mengapung kurang lebih 10 menit. Angkat, tiriskan.
  6. Sajikan dengan saus pedas dan kecap manis atau dengan sambal pecel.

Eh, kalo udah dingin kan jadi kurang mantap rasanya, digoreng jadi makin enak lhoo.

Sebenarnya hari ini udah mau stop dulu belajar masaknya. Udah habis resep kue yang dikukus-kukus aja. Bolu kukus belum dicoba sih, tapi suami saya ga suka bolu kukus. Stop dulu, mulai diet lagi :mrgreen: .

Eh, ternyata Ibu saya bikin Arem-arem. Arem-arem itu nama makanan daerah di Jawa Tengah ya? Kok suami saya ga tahu apa itu arem-arem. Kalau lontong isi, dia tahu. Memang mirip lontong diisi lauk, tapi kan rasanya beda jauh dari lontong. Arem-arem itu nasinya gurih, seperti nasi uduk.Mau tahu resep bikinan Ibu saya?

Arem-arem ekonomis

Bahan nasi:

1. Beras 500 gram

2. Santan dari 1/2 kelapa

3. Daun Salam 3 lembar

4. Daun jeruk 2 lembar

5. Garam secukupnya

6. Daun pisang untuk membungkus

Bahan Isi:

1. Santan 150 ml

2. Tahu putih 5 biji, iris kotak kecil-kecil, goreng

3. Cabe merah 5 buah, iris serong tipis-tipis

4. Kecap manis 3 sdm

6. Minyak goreng 3 sdm untuk menumis

Bumbu (haluskan untuk isi):

1. Bawang merah 3 siung

2. Bawang putih 3 siung

3. Merica 1/2 sdt

4.Kemiri 3 butir

5. Garam secukupnya

Cara membuat:

1. Siapkan daun pisang, jemur sampai agak sedikit layu.

2. Rebus beras dengan santan dari 1/2 kelapa, daun salam dan daun jeruk, aduk-aduk hingga santan habis. Angkat. Tutup sisihkan.

3. Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan cabe, tahu kecil-kecil yang sudah digoreng, tuang santan dan kecap manis. Aduk rata. Tunggu sampe santan kering. Angkat.

4. Bentangkan 2 lembar daun pisang. Ambil 3-4 sdm nasi, ratakan. Tambahkan 1 sdm isi. Gulung daun pisang seperti lontong.

5. Kukus kurang lebih 30 menit.

Gambar di atas itu, yang mirip nasi timbel adalah arem-arem yang sudah dibuka bungkusnya. Karena Judulnya Arem-arem ekonomis, isinya pake orik tahu aja. Kalau mau lebih enak pastinya tambahkan daging cincang atau giling, ayam suwir-suwir, telur atau udang juga bisa. Apa aja deh, pasti makin enak. Wong pake tahu aja enak :-) .

Trus Bihun gorengnya? Ceritanya tadi tuh saya mau bikin fuyunghai bihun jagung. Tapi kok malas dadarnya. Ga punya wajan dadar sih, jadi males :P .  Ya udah, bikin bihun goreng aja. Saya itu kalo masak yang bukan kue, ga pernah pake resep pakem. Pake ilmu kira-kira aja :mrgreen: . Tapi, karena ceritanya sedang belajar, marilah kita belajar menulis resep.

Bihun Goreng Ekonomis

Read the rest of this entry »

Donat

Hari ini lagi rame di milis NCC (Natural Cooking Club) tentang donat yang di goreng pake lilin biar keliatan cantik. Ngeri ya. Jadi waspada deh, kalo beli makanan dipinggir jalan yang bentuknya cantik tapi harganya murah. Karena cantik itu mahal, iya kan? Jadi mikir deh, jadi Ibu rumah tangga tuh harus pinter masak. Demi keluarga kan ya? Kalau makanan di rumah macem-macem dan enak-enak, pasti suami dan anak-anak ga tergoda liat makanan di luar yang ga jelas. Walaupun tidak semua penjual makanan ga jelas ya, tapi kan kadang-kadang susah dibedakan antara yang benar-benar baik sama yang engga.

Dua hari ini, saya lagi belajar bikin donat. Terus terang,bikin donat adalah yang terberat daripada bikin kue-kue lain. Nguleni pake tangan, cape deh :( . Kalo ga sayang sama hand mixer sih, diuleni pake mikser pasti deh langsung jebol :D . Sebenernya saya udah pernah putus asa dan berjanji ga mau bikin donat lagi. Gara-gara gagal ga bisa goreng. Gosong duluan padahal dalemnya belum mateng. Padahal bikinnya pake resep donat kentang ini, banyakkan yang ga kemakan? :( . Padahal udah ngikutin tips suksesnya di sini. Pokonya putus asa, ga mau bikin lagi. Udah bikinnya susah dan termasuk makanan yang ga bagus juga buat diet. Secara komposisinya terdiri dari terigu protein tinggi, kentang, telur, mentega dan susu full cream, masih digoreng lagi. Wow, pasti makin tinggi kan lemaknya daripada kue yang cuma dikukus.

Tapi karena saya pernah gagal, malah jadi masih penasaran. Apalagi suami saya suka donat. Ya udah, coba lagi, siapkan tenaga ekstra. Browsing-browsing resep, pilih-pilih, akhirnya milih resep donat Ala JCo. Donat yang teksturnya kosong. Saya bikin seperempat resep aja, kalo gagal kan ga sayang. Kalo sedikit juga nguleninya lebih ringan. Jadinya 25 an donat ukuran kecil. Tuh hasilnya foto di atas. Ga cantik kan ya? Kan gorengnya ga dicampur lilin, hoho ngeles :P .

Karena kemarin agak berhasil, hari ini saya jadi berani mengulangi bikin donat kentang lagi. Bikin setengah resep saja. Jadi 20 donat ukuran kecil. Tapi sayang belum sempat difoto sudah dibagi-bagi :D . Selama menggoreng donat, Ibu saya nungguin. Tiba-tiba nanya, “kok sekarang bagus hasilnya? Kenapa dulu ga bisa? Belajar dari mana?”. Saya jawab, ya baca-baca aja tips-tips bikin donat. Dulu sih bacanya belum banyak, jadi ya masih salah deh.(Ibu saya itu sangat takjub, karena saya bisa baca apa saja yang saya mau lewat HP saya :D ). “Di HP kamu ada resep macem-macem ya?” tanyanya :D . Ga cuna resep, berita reshuffle kabinet juga ada, hehe :P .

Kue Lurik

Pertama kali berhasil bikin kue, adalah kue Zebra kukus. Resep dari sang master Ibu Fatmah Bahalwan. Resepnya sederhana dan gampang dipraktekkan. Seingat saya, tadi pagi adalah kue Zebra saya yang ke tiga. Kue ini rasanya enak. Bapak dan Ibu saya suka sekali.

Resep aslinya klik saja di sini. Saya pake setengah resepnya dan sedikit modifikasi.

Bahan A:
4 btr     telor
125 gr  gula pasir
½ sdm   emulsifier
½ sdt    garam

Bahan B:
125 gr  tepung terigu
25 gr    susu bubuk

Bahan C:
25 gr    mentega, lelehkan
1 sachet   Susu bend*ra putih

Bahan D:
25 gr    margarine, lelehkan
1 sachet   Susu b*ndera coklat
1 sachet   T*rabika mocca

Cara membuatnya:

  • kocok bahan A hingga mengembang dan kental, masukkan bahan B sambil diayak. Aduk rata. Timbang, bagi 2 sama rata.
  • Satu bagian, diberi bahan C, aduk rata, sisihkan.
  • Satu bagian lagi, diberi bahan D, aduk rata, sisihkan.
  • Penyelesaian : ambil loyang bulat garis tengah 24cm, taruh satu centhong adonan putih dibagian tengah, tuang diatasnya satu centhong lagi adonan mocca diatasnya, tuang lagi adonan putih, bergantian dengan adonan mocca disatu titik, hingga adonan habis.
  • Kukus selama 1 jam. Angkat, potong-potong. Sajikan.

Karena saya ga punya loyang bulat, saya make kaleng tempat M*nde Butter cookies :D .

Kaleng bekas biskuit jangan dibuang deh, bisa dijadiin loyang buat ngukus kue :D

Tapi kenapa ya, tadi kuenya jadi nempel di sisi-sisi kaleng. Padahal udah saya oles pake margarin. Apakah karena saya iseng nambahin sedikiit baking powder ya, jadinya kuenya agak kasar? ga tahu deh. Akhirnya saya paksa deh biar bisa keluar dari kalengnya. Jadinya bentuknya jelek :(

Setelah dikeluarkan dengan paksa dari dalam loyang (kaleng bekas :D )

O iya saya ngukusnya cuma 30 menit. Sebenernya ngocok telur sambil berdo’a semoga gasnya ga abis sampai kuenya mateng dulu. Bener saja, baru 30 menit ngukus, apinya ketip-ketip. Mati deh. Untungnya udah mateng. Angkat, poyong-potong.

Lagi-lagi jangan bandingkan gambar kue milik saya dengan gambar milik siapapun. :D

Dilihat-lihat ga mirip Zebra ya? bukan hitm putih. Ya udah sebut aja kue lurik.

Roll Cake Ancur-ancuran :D

Wah, Judulnya udah under estimate duluan. Sebenarnya emang ga pede sekali ya nampangin kue ancur seperti di samping. Ah, tapi biarin wong namanya juga sedang belajar. Sah-sah aja kan ya kalo hasilnya belum bisa bagus? Tapi kalo mau ngeles sih ya, sebenernya penampilan yang jelek itu cuma karena saya ga bisa moto, apalagi pake kamera HP jelek. Aslinya mah, cantik, rasanya enak. Beneran lho ini cuma ngeles. Wong kamera jelek aja ga menipu, apalagi kamera bagus yang jujur, ntar malah keliatan banget ancurnya. :P

Berawal dari tadi pagi waktu bangun tidur, suami saya nanyain hari ini saya mau ngapain. “Masih ada sisa bahan kue, mamah mau belajar lagi hari ini,” jawab saya. “Jangan brownies terus dong mamah yang dibuat, yang lain gitu,” kata suami saya. “Ya engga brownies terus, wong baru lima kali,” lanjut saya. “Lima kali tuh harusnya udah berhasil bikin yang paling enak dan cantiiik,” katanya lagi. “Iya deh,” jawab saya datar. Haha, bikin kue itu seperti belajar matematika loh :P . Makin sering kita berlatih, makin mahir kita bikinnya. Otomatis, hasilnya semakin bagus. Baru lima kali mah belum apa-apa. Eh, tapi beneran loh, bikin kue itu pake matematika juga. Matematika anak SD, berhitung bagi-bagian dan konversi satuan pengukuran. Timbang-timbang bahannya. Pilih memilih loyang, juga harus bisa menghitung volume maksimal loyang untuk memutuskan mau membuat seberapa banyak adonan. Mau loyang bentuk kotak atau lingkaran. Sebenarnya yang kotak itu balok dan yang lingkaran itu tabung. Haiah, rumit amat ya? Padahal prakteknya biasa aja sih. Estimasi aja.

Roll cake ato bolu gulung yang saya buat di atas, lagi-lagi nyontek resep NCC. Resep aslinya namanya bolu gulung marmer kukus. Kalau pengen tahu klik aja, jangan bandingkan gambarnya dengan gambar milik saya. Kan sudah saya bilang, punya saya namanya Roll Cake Ancur-ancuran. Ya jelas beda dong.

Langkah-langkah bikinnya, seperti biasa, siapkan contekan resep. Trus siapkan bahan-bahannya. Timbang-timbang. Kocok telur dan gula.Eh, bener ga sih ngocok telur sama gulanya hanya sampai seperti gambar di bawah ini? (belum paham instruksi dari resep yang bilang mengental, kaku ato berpita itu bedanya apa).

Berikut deh resep lengkapnya:

Bahan A:

4 btr      telur
100 gr    gula pasir
1 sdt      cake emulsifier
½ sdt     vanilli (saya ga pake, ga ada sih, males keluar-keluar)

Bahan B:
80 gr      tepung terigu protein sedang
10 gr      susu bubuk full cream (saya pake 20 gr, biar tambah gurih karena ga pake Vanilli takut rasanya ga enak)
10 gr      tepung maizena

Bahan C:
50 gr      margarine, lelehkan

Bahan D:
1 sdt      pasta cokelat (ga pake, makanya sisi luarnya polos, ga ada coklat2 marmernya)
50 gr      selai  Blue Berry (saya pake pasta coklat spread 40 gr)

Cara membuatnya:

  1. Kocok bahan A hingga kental, masukkan bahan B aduk rata, tuangi bahan C aduk rata.
  2. Ambil 3 sdm adonan, beri pasta cokelat aduk rata, sisihkan. (saya skip langkah ini, karena ga punya pasta coklat)
  3. Tuang adonan kuning kedalam loyang 22x22x4cm (saya pake loyang ukuran 24x22x4 cm), lalu dengan sendok makan beri adonan cokelat  diatasnya secara acak. Buat motif marmer pada adonan menggunakan sumpit atau garpu (Skip langkah ini).
  4. Kukus dalam dandang yg sudah beruap banyak selama 15 menit. Angkat. (Saya cuma ngukus 10 menit, karena adonan saya bagi tiga, tipis-tipis)
  5. Biarkan uapnya hilang dan cake hangat, balik diatas kertas roti. Poles dengan selai Blue Berry (saya pake pasta coklat spread), segera gulung dan kencangkan

Begitu deh ceritanya. Ga tahu kenapa, hasil kukusan yang pertama waktu saya gulung pecah. Tapi yang kedua dan ketiga engga. Kayaknya yang pertama terlalu tebel ato kelamaan ngukusnya ya? saya juga belum tahu jawabannya. :-)

Besok apalagi ya? Ada ide?

Brownies Coklat Tabur Keju

Brownies Ny. Al Jupri

Ceritanya saya lagi terobsesi dengan belajar bikin kue :D . Karena saya baru saja gabung dengan milis Natural Cooking Club (NCC) di yahoogroups. Sebuah milis yang beranggotakan para bakul kue rumahan (mereka menyebutnya demikian). Padahal, mereka adalah orang-orang top, chef-chef handal. Master kue di negeri ini. :-)

Dalam seminggu ini hampir tiap hari saya selalu membuat brownies dengan resep-resep hasil googling yang berbeda-beda. Tapi satu-satunya yang berhasil saya foto adalah hasil tadi malam (itu juga dengan kamera HP butut saya, jadinya gambarnya burem). Biasanya begitu brownies saya angkat dari kukusan saya potong-potong, sebentar kemudian sudah ludes karena Ibu dan Adik saya, juga saya pastinya doyan banget. Walaupun kadang bantat, walaupun kadang rasanya ga karuan. :D

Sebenarnya kemarin sudah mau tobat, ga mau bikin brownies lagi. Bukan putus asa karena saya gagal terus, tapi dalam seminggu saya belajar membuat kue, timbangan badan saya sukses bergeser ke kanan satu angka, hiks :( . Tentu saja, ini harus segera dihentikan.  Tapi tadi malam, ada kakak saya datang, minta diajarin bikin brownies (haiah, saya juga lagi belajar, gimana mau ngajarin).

Ok deh, dengan modal contekan resep brownies dari Natural Cooking Club (NCC) yang terkenal enak itu, saya berlagak jadi instruktur kursus. Belagu amat ya, baru bisa pegang mikser seminggu aja udah songong ga ketulungan :P . Pengalaman lima kali tentu saja belum bisa dibilang mahir.

Ini brownies ke lima saya.

Pertama, saya bikin pake resep dari pemilik toko bahan kue deket rumah. Komposisi bahannya tertulis di bungkus plastiknya yaitu: Terigu, gula pasir, vanili, coklat bubuk, coklat blok, margarin, emulsifier, baking powder.  Tapi tidak tahu berapa jumlah setiap bahannya. Bahan-bahan itu sudah dibungkus dalam kemasan kecil2 dan disetiap kemasannya ditandai dengan huruf A, B, C, D dan E. Jadi ya ga bisa dicontek tuh resepnya. Hasilnya? Rasanya cukup enak. Karena coklat blok yang dipakai cukup nyoklat walaupun cuma sedikiiit (sayangnya ga tahu merek apa yang dipake). teksturnya berremah, agak berongga.

Kedua, saya bikin pake resep dari NCC. Resepnya bisa diintip di sini dengan segenap instruksinya. Ingin tahu testimoni bagaimana rasanya cukup googling aja dengan keyword  brokus coklat NCC. Ternyata, hampir semua yang pernah bikin brownies ini katanya mantap. Teksturnya lembuuut, rasanya nyoklat bangeeet. Tapi sayang sekali, waktu saya bikin ini, saya pake bahannya coklat bubuk murahan, Rp. 4000 untuk 250 gram dan DCC murahan. Jadinya rasanya yaaa… tetep ga murahan. Enak (membela diri :D ).

Ketiga, saya bikin pake resep brokus keju ala Pak Sahak. Resepnya nyontek dari sini. Dengan modifikasi, resep yang judulnya keju itu, saya bikin coklat. Susu bubuk yang 40 gram saya ganti dengan susu bubuk 20 gram (pake d*ncow calciplus) dan coklat bubuk 20 gram. 250 cheese creamnya saya ganti dengan DCC 75 gram. Katanya resep ini memang bantat. Jadi kalo hasilnya bantat berarti berhasil. Rasanya nyoklat gurih. Tapi sayang bantat.

Keempat, pake resep brokus keju radin. Berdasarkan saran dari mbak Nina, kalo mau bikin brownies yang ga bantat pake resep radin aja. Pemilik resep ini, mba Nia Kurniasih pernah nongol di acara jelang siang Trans TV. Sebenarnya saya belajar teknik ngaduk adonan dari pemilik radincake ini. Karena sebenarnya saya belum pernah lihat langsung orang bikin kue. Menurut adik saya, inilah brownies paling enak bikinan saya dibanding sebelum-sebelumnya :-) .

Ke lima, ya tadi malam. Pake resep NCC yang saya modifikasi (Duh, berasa gaya bisa modifikasi resep :P ).

Resep Brownies Coklat Tabur Keju

(Modified from NCC by Ny. Al Jupri :D )

Bahan A:
4 btr   telur
100 gr   gula pasir
1/2 sdm   emulsifier

Bahan B:

10 gr susu bubuk full cream
25 gr     coklat bubuk
100 gr   tepung terigu

1/2 sdt baking powder
1 bks kecil   vanilli
Bahan C:
100 gr   mentega/margarine
75 gr   dark cooking chocolate

Bahan filling : coklat meisyes secukupnya
Bahan taburan: pasta coklat spread + keju cheddar 30 gr
Cara membuat:

  1. Panaskan kukusan. Siapkan loyang kotak  poles mentega
  2. Kocok bahan A sampai kental, masukkan bahan B sambil diayak, lalu tuang bahan C, aduk hingga rata benar. Bagi menjadi 2 bagian sama rata.
  3. Tuang satu bagian adonan kedalam loyang, kukus selama lk. 10 menit.
  4. Buka kukusan, taburi meisyes, tuang lagi satu bagian adonan, kukus lagi lk 45 menit sampai matang.
  5. angkat dari loyang. Olesi coklat spread taburkan keju parut. Potong-potong.

Dari lima kali belajar itu ada beberapa hal yang perlu saya catat:

1. Telur+gula+emulsifier dikocok sampe kaku. Kaku itu sampai bentuknya berpita. runcing dan tetap, tidak bergoyang saat dicolek. :D

2. Penambahan baking powder membuat tekstur brownies jadi berpori.

3. Pastikan air dalam kukusan sudah mendidih dan beruap banyak ketika memasukkan loyang ke dalam kukusan.

4.Air yang terlalu penuh dalam kukusan akan mengenai loyang ketika mendidih, sehingga bagian bawah kue akan lembek.

5. Alasi tutup panci dengan serbet agar uap air tidak jatuh ke adonan.

6. Gunakan api kecil/ sedang ketika mengukus. Api besar akan menyebabkan kue bergelombang.

Nah, ini ceritaku bagaimana dengan ceritamu? :D

Sayur Asem Sumbrah

Kata suami saya, sayur yang paling disukainya adalah sayur asem. Tapi bukan sembarang sayur asem. Tapi sayur asem khusus yang dibuat oleh Ibunya. Sumbrah, begitu suami saya menggambarkan rasa sayur asem bikinan Ibu mertua saya. Tahu sumbrah itu rasanya gimana? Bagi saya sumbrah merupakan kosakata baru dan susah menemukan padanan kata yang pas. Kalo didefinisikan secara luas mungkin segar, lezat dan bikin ketagihan.

Sebelum pernah merasakannya, saya begitu penasaran. Setelah merasakannya, malah semakin penasaran. Sayur asem ini beda dari semua sayur asem yang pernah saya makan sebelumnya. Penasaran resepnya, saya pun mengikuti Ibu mertua saya di dapur. Ternyata, tidak ada yang istimewa. Sekantong plastik sayuran yang berisi tangkil (biji melinjo), daun melinjo, jagung manis, kacang panjang, labu siam, daun salam, asem jawa, laos dan cabe rawit itu, dipotong-potong begitu saja dan dimasak dalam sepanci air ditambah garam dan sedikit gula. Udah.

So what? Saya juga bisa kalo cuma kayak gitu caranya. Eh, tapi kata suami saya tetep rasanya akan beda. Iya sih, mungkin karena sayur asem Ibu (mertua) saya itu diracik dengan kasih sayang. :-)

gambarnya minjem dari sini.

Tentang kegagalan

Dari mana datangnya pengalaman? Dari kegagalan-kegagalan yang pernah kita lakukan. Aih, rasanya kalimat itu tepat ya? Menghibur kegalauan orang-orang yang lagi gagal. Meskipun kekecewaan akibat kegagalan tetap perih. Tapi kalimat itu rasanya seperti siraman air yang menyejukkan. Kembali semangat, mencoba lagi. Kembali berharap, berusaha lagi. Membangun mimpi lagi, yang lebih indah. Untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tulisan ini tentang kegagalan, yang kata orang adalah kesuksesan yang tertunda. Karena kesuksesannya tertunda, mari orang-orang gagal tetap terus berusaha sampai waktunya tiba, akan sukses. Anda setuju?

Tetapi bagi orang yang tidak pernah gagal, dia memiliki banyak pengalaman membanggakan. Pengalaman yang memukau untuk dipamerkan atau sekedar dikenang dan disimpan.  Kegagalan adalah tetap kegagalan. Bukan keberhasilan. Tidak ada yang tertunda dalam sebuah kegagalan saat ini. Waktu bukan tidak tepat untuk menangkap kesempatan. Tapi orang yang gagal lah yang tidak siap menangkap kesempatan itu. maka bagi orang sukses, setiap waktu adalah lecutan untuk terus meraih keberhasilan. Sepakat?

Kata orang gagal, dengan kegagalan kita bisa banyak belajar. Sebaliknya kata orang sukses, dengan banyak belajar kita bisa berhasil. Benar kan?

Bagi saya kegagalan, apapun itu sangat menyakitkan. Kekecewaan itu rasanya tidak bisa dibayar dengan apapun. Sebenarnya saya sedang ingin berbagi tentang pengalaman saya belajar memasak. Kegemaran baru saya ini memang sangat menyenangkan. Tiba-tiba saja saya suka memasak. Dimulai dari membayangkan makanan enak apa saja yang pernah saya makan. Mengingat-ingat rasanya dan menakar bahan-bahannya. Berselancar mencari resepnya. Kemudian mencoba. Aha, ini sangat mengasyikkan. Lalu saya mulai memasak menu makanan sehari-hari yang variatif. Berkenalan dengan macam-macam rempah-rempah yang sangat berlimpah di Negara Indonesia raya tercinta. Dan saya jadi tahu kenapa negara kita dulu dijajah, karena kita kaya akan rempah, dan makanan terlezat di dunia ada di Indonesia (eh, ngelantur).

Selain menu sehari-hari, saya juga sedang tertarik dengan kue-kue. tetapi saya tidak memiliki alat-alat untuk membuat kue. Tidak punya oven tidak punya mixer tidak punya loyang (cetakan). Haduh, lalu mau bikin kue apa? Kue beras yang ditumbuk itu (gendar)? Atau kue gemblong? :D . Tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada oven kukus pun juga oke. Tak ada mixer, kocok pake tangan juga…. cape banget (alhamdulillah, akhirnya dikasih hadiah handmixer sama suami :D ).  Akhirnya  saya browsing sana-sini, tentang resep kue-kue yang tidak perlu dioven.

Maka jatuh lah pilihan saya yang pertama untuk mencoba kue bikang. Dengan pertimbangan, bahan-bahannya sederhana. Mudah di dapat. Murah. Dan selera tradisional. Tapi alohaaa, seperti yang pernah saya ceritakan. Gagal total. Gimana mau mengembang, wong bikin adonannya ga diuleni. Hiks. Tak jadi bikang, jadilah puding yang kenyal-kenyal :P . Lalu, karena sedang punya banyak kentang, dan sedang bosan makan kentang sebagai sayuran. Akhirnya cari-cari resep donat kentang yang maknyuss itu. Dengan sangat percaya diri, dengan segenap tenaga, mulai lah perjuangan membuat donat. Jadi kah? Iya jadi, tapi entah kenapa donat jadi gosong sebelum matang sempurna. Hiks. Yang ketiga, mulai hati-hati, saya mulai membuat kue Zebra yang dikukus (Resep dari NCC). Hasilnya? Ketika membuka kukusan, taraaaaaaaaaa……. rasanya seperti sedang di atas panggung untuk memperoleh penghargaan dari Presiden. Berhasil berhasil (nyanyi-nyanyi ala Dora). Duh senengnyaaaaaa. Walaupun besoknya, ketika mengulanginya lagi, ga tahu kenapa malah bantat.

Lalu brownies kukus. Belajar membuat brownies kukus itu sudah sejak dulu saya cita-citakan. Saya pernah berjanji mau membuatkan brownies paling enak untuk suami saya. Brownies Amanda mah kalah,  Kartika Sari, lewat. Ini brownies Nyonya Al Jupri, Hehe :D .

Bagi saya membuat kue itu seperti mengharap sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Setelah adonan kita masukkan, kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam kukusan itu. kita hanya bisa harap-harap cemas, adonan yang tadinya bau telur, mentega dan tepung itu berubah harum. Mengembang lembut dan berasa kue. Jadi tentang kegagalan? adalah pengalaman yang semakin membuat kita pintar. ^.^